Tauhid dalam Angka: Ikhwan al-Shafa’ dan Simbolisme Bilangan

Dalam pemikiran Islam klasik, terutama sebagaimana dikembangkan oleh Ikhwan al-Shafa’, bilangan merupakan prinsip metafisis yang mendasari segala bentuk. Angka satu (1) adalah lambang tauhid, keesaan mutlak, titik asal dari segala realitas. Ia bukan hanya permulaan deret, tetapi juga sumber eksistensial dari seluruh wujud (Goodman, 1978)[1]. Segala bilangan lain muncul dari penambahan terhadap satu — sebagaimana segala bentuk pluralitas di alam semesta adalah pancaran (tajalli) dari satu Wujud Absolut.

Pandangan Ikhwan al-Shafa’ sebagaimana dikutip oleh Goodman (1978) menawarkan suatu kerangka metafisis yang dalam mengenai hakikat bilangan. Dalam tradisi Islam klasik, angka satu (1) bukan hanya entitas matematis, melainkan simbol ontologis yang merepresentasikan realitas mutlak—yakni Tuhan sebagai al-Wāḥid al-Aḥad. Sebagai titik awal yang tidak berasal dari mana pun kecuali dari Diri-Nya sendiri, satu menjadi prinsip asal yang tidak terbagi, tak tergantikan, dan tak tergantung pada selain-Nya. Saya memandang bahwa dalam pemahaman ini, matematika berubah dari sekadar instrumen kuantitatif menjadi medium teologis; angka satu adalah ikon tauhid yang mengakar dalam struktur eksistensi.

Apa yang menarik dari pendekatan Ikhwan al-Shafa’ adalah kemampuannya merangkul simbolisme angka secara filosofis dan spiritual tanpa mengorbankan koherensi rasional. Mereka memahami bahwa segala bilangan yang muncul sesudah satu hanyalah hasil diferensiasi, bukan entitas mandiri. Dalam konteks ini, angka dua (2) bukanlah dualitas sejati, tetapi pengungkapan awal dari kemungkinan relasi—yakni relasi antara Khalik dan makhluk. Dan demikian pula seterusnya: tiap angka mengandung struktur yang mencerminkan dinamika penciptaan dan keteraturan kosmik. Pandangan ini, menurut saya, menegaskan bahwa pluralitas bukanlah ancaman bagi keesaan, melainkan manifestasi dari kekayaan makna dalam keesaan itu sendiri. Di sinilah prinsip tajalli menjadi kunci: segala bentuk, jumlah, dan ukuran hanyalah penampakan dari Wujud Yang Satu dalam berbagai tingkat realitas.

Saya sepakat bahwa pemikiran ini sangat relevan bagi kita yang hidup dalam dunia yang terobsesi dengan fragmentasi, klasifikasi, dan statistik. Dunia modern sering kali melihat angka sebagai alat dominasi atas realitas, bukan sebagai jalan pengenalan terhadap asal-usulnya. Dalam hal ini, ajaran Ikhwan al-Shafa’ mengingatkan bahwa bilangan bukanlah sekadar alat pengukur luar, tetapi cermin dari struktur batin ciptaan. Angka satu mengandung segala kemungkinan, dan semua bilangan adalah upaya kembali menuju keutuhan. Maka, setiap operasi matematis sejatinya adalah simulasi spiritual tentang bagaimana yang jamak berakar pada yang esa.

Lebih jauh, saya melihat bahwa memahami bilangan dalam kerangka ini dapat menjadi fondasi untuk membangun epistemologi Islam yang integral—yang tidak memisahkan rasio dari makna, sains dari spiritualitas. Jika angka satu adalah lambang tauhid, maka proses berpikir yang benar seharusnya berorientasi pada pengesaan, bukan pemisahan. Inilah yang hilang dalam banyak pendekatan ilmiah kontemporer: kesadaran akan prinsip asal yang mempersatukan semua objek studi. Dengan demikian, saya menilai bahwa warisan Ikhwan al-Shafa’ sebagaimana ditafsirkan oleh Goodman, bukan hanya bernilai historis, tetapi sangat relevan sebagai arah baru bagi pemulihan dimensi ruhani dalam ilmu pengetahuan hari ini.

 

Penulis adalah pengikut Thareqat Naqshabandiah Indonesia Asuhan Abuya Syekh Muhammad Maulana Nur’adin Badruzaman dan aktif sebagai pengampu mata kuliah Pengantar Sistem Manufaktur berbasis digital dan Kecerdasan Buatan serta Manajemen Operasional dan aktif sebagai Pegiat Pangan di Wilayah Jawa Barat.

Kepustakaan

[1] Goodman, L. E. (1978). The Case of the Animals versus Man Before the King of the Jinn: An Arabic Critical Edition and English Translation of Epistle 22. Boston: Twayne Publishers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *