Sebelum angka menjadi alat hitung, ia adalah rahasia. Sebelum bilangan dijadikan representasi kuantitatif, ia adalah lambang kualitas eksistensial. Dalam pandangan dunia Islam, sebagaimana dijabarkan oleh para filsuf dan sufi, bilangan bukan hasil ciptaan manusia, melainkan bagian dari logoi semesta _manifestasi dari tatanan Tuhan yang membentang dari dunia ide ke jagat nyata (Nasr, 1993)[1]. Maka bilangan, dalam konteks ini, adalah bahasa ilahiah yang meresap dalam struktur ciptaan, bagaikan huruf dalam kitab takdir.
Pandangan Nasr bahwa bilangan adalah bagian dari logoi semesta dan bukan ciptaan manusia, melainkan manifestasi dari tatanan Tuhan, bagi saya merupakan fondasi penting untuk meninjau ulang hubungan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Dalam dunia modern yang terfragmentasi, di mana angka direduksi menjadi alat produksi dan statistik, gagasan ini menawarkan perspektif yang holistik—yakni bahwa angka memiliki makna ontologis, bukan semata fungsi utilitarian. Saya melihat bahwa pendekatan Nasr adalah bentuk perlawanan halus terhadap desakralisasi dunia oleh nalar positivistik yang memisahkan makna dari bentuk, kualitas dari kuantitas. Dalam konteks ini, angka kembali menemukan dimensi asalinya: bukan hanya what is counted, tetapi what counts—yang bermakna secara metafisis dan spiritual.
Namun demikian, saya berpandangan bahwa untuk membawa kembali bilangan ke dalam kerangka kesadaran ruhani, diperlukan lebih dari sekadar penegasan metafisik. Diperlukan juga metode kontemplatif yang memampukan manusia modern mengakses kembali struktur batin bilangan sebagaimana dilakukan oleh para sufi dan filsuf Islam klasik. Dalam hal ini, matematika tak cukup hanya dipahami sebagai bahasa semesta, tetapi harus dilatih sebagai jalan disiplin ruhani, di mana keteraturan, keindahan, dan keseimbangan angka dijadikan cermin bagi keteraturan batin. Maka, pandangan Nasr penting bukan hanya karena menawarkan reinterpretasi, tetapi karena membuka peluang praksis baru: menjadikan matematika sebagai dzikr intelektual.
Pandangan ini juga mengajak kita untuk mengakui bahwa pencarian ilmiah bukanlah jalan yang terpisah dari pencarian spiritual. Seperti yang dicontohkan oleh para ilmuwan-sufi seperti al-Biruni atau Nasir al-Din al-Tusi, perhitungan dan pengukuran mereka bukan sekadar eksplorasi empiris, tetapi sekaligus ikhtiar menembus hijab makna yang tersembunyi dalam hukum-hukum angka. Saya memandang bahwa warisan inilah yang sedang ditawarkan kembali oleh Nasr—yakni sebuah warisan pengetahuan yang menyatukan logos dan nous, akal dan jiwa, eksak dan esoterik. Dalam terang ini, saya tidak hanya menyetujui pandangan Nasr, tetapi juga merasa terdorong untuk melanjutkannya sebagai bagian dari upaya pemulihan sakralitas dalam epistemologi kita hari ini.
Dengan demikian, pandangan Nasr bukanlah nostalgia terhadap masa lalu, melainkan kritik aktif terhadap fragmentasi modernitas dan sekaligus tawaran kosmologi baru—yang sesungguhnya adalah kosmologi lama yang telah terlupakan. Sebagai penulis, saya meyakini bahwa angka-angka tidak pernah mati; mereka hanya dibungkam oleh cara pandang yang lupa akan asal-usulnya. Tugas kita kini adalah mendengar kembali bisikan bilangan sebagai bahasa Tuhan, bukan sekadar menghitung, tetapi menghimpun makna dari yang tersembunyi.
Penulis adalah pengikut Thareqat Naqshabandiah Indonesia Asuhan Abuya Syekh Muhammad Maulana Nur’adin Badruzaman dan aktif sebagai pengampu mata kuliah Pengantar Sistem Manufaktur berbasis digital dan Kecerdasan Buatan serta Manajemen Operasional dan aktif sebagai Pegiat Pangan di Wilayah Jawa Barat.
[1] Nasr, S. H. (1993). An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines. Albany: SUNY Press.








