taktis.co – Ketua KONI Provinsi Jawa Barat, Muhamad Budiana melepas ratusan peserta FUN BIKE#3 Anniversary 5 IKA SPENSA Purwakarta di Pertigaan BTN Purwakarta, Kelurahan Nagri Tengah, Minggu 12 November 2023.
Menempuh jarak sekitar 15 kilometer, ratusan peserta gowes santai itu mengambil rute star mulai dari Pertigaan BTN ke Pasar Jumat, Jalan Veteran lalu masuk ke bawah jembatan layang Sadang ke arah Tegal Munjul kemudian menuju Tegal Onder, keluar di Jalan Lodaya Makodim Purwakarta dan finish di halaman SMPN 1 Purwakarta di Jalan KK Singawinata.
Selain diikuti oleh para alumni SMPN 1 Purwakarta dari berbagai angkatan dan masyarakat umum Purwakarta, pada gowes santai tersebut juga hadir peserta dari sejumlah wilayah di Jawa Barat seperti komunitas sepeda dari Bandung, Indramayu dan wilayah lainnya.
Prof. Dr. Muhamad Budiana yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni SMPN 1 Purwakarta itu dalam sambutannya mengucapkan terimakasih atas partisipasi panitia dan seluruh peserta yang mengikuti gowes santai dengan tema IKA SPENSA Purwakarta: Berolahraga, Berwisata dan Beramal itu.
“Alhamdulillah, gowes santai ini adalah kegiatan fun bike ketiga yang digelar ikatan alumni. Atas nama panitia, saya mengucapkan terimakasih atas partisipasi seluruh peserta, baik itu alumni maupun masyarakat umum. Semoga Allah SWT memberkahi, melindungi terutama kesehatan. Sehat selalu dan jaya selalu Purwakarta,” kata Budiana.
Menurut alumni angkatan tahun 1986 itu, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari hasil Rapat Kerja Pertama Pengurus IKA SPENSA Purwakarta periode 2023-2026 yang dilaksanakan pada Agustus 2023 lalu.
Terpisah, Ketua Dewan Penasehat IKA SPENSA Purwakarta Dr. H. Suherman Saleh, Ak, M.Sc, CA mengatakan, acara-acara semacam gowes sepeda santai bersama atau reuni merupakan bagian dari silaturahmi sebagai manusia.
Menurut tokoh masyarakat yang kerap disapa Uda Herman itu, acara-acara semacam reuni itu sangat bermanfaat diantaranya untuk menyambung silaturrahim yang dulu pernah ada karena berasal dari sekolah yang sama.
“Gowes santai ini juga untuk meningkatkan silaturahmi yang sudah terjalin. Tujuan pokoknya adalah menjaga kesehatan, sehingga bisa beribadah lebih sempurna, karena menjaga kesehatan atau menjaga napas merupakan salahsatu kewajiban manusia yang diamanahkan Tuhan, maka kegiatan gowes ini merupakan kegiatan ibadah yang dilakukan dengan riang gembira. Sehingga nilai silaturahminya dapat dan nilai ibadahnya juga terpenuhi,” kata Uda Herman.
Ia berharap kegiatan seperti ini bisa rutin diadakan secara periodik, karena dari gowes ini juga ada dana yang terkumpul, yang kemudian disalurkan kepada anak yatim dan duafa termasuk anak-anak SMPN 1 Purwakarta yang kurang mampu. “Disamping itu ada juga bantuan dana yang bisa dimanfaatkan oleh almamater, yaitu dana yang terkumpul secara spontanitas dari para alumni,” kata Uda.
*Sekilas Sejarah SMPN 1 Purwakarta*
Lebih jauh, alumni SMPN 1 Purwakarta angkatan tahun 1966 itu juga sedikit mengulas tentang sejarah sekolah yang dulu menjadi tempatnya menimba ilmu. Menurut Uda Herman, jika berbicara sejarah berdirinya SMP Negeri 1 Purwakarta tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan yang ada di kota Purwakarta saat itu.
Sekitar tahun 1942, sebelum bala tentara Jepang masuk ke Indonesia Lembaga Pendidikan di Kewedanaan Purwakarta hanya sampai pada tingkat Sekolah Rakyat (SR). Di Purwakarta, yang saat itu merupakan bagian dari Kabupaten Karawang hanya ada tiga sekolah setingkat SD atau SR, yaitu; Holandsch Inlande School (HIS) yang sekarang menjadi SD Singawinata, Europe Lagere School (ELS) yang bangunannya sekarang menjadi SMAN 1 Purwakarta, dan Schakels School yang lokasi sekarangnya asa di Jalan Siliwangi (dekat Bengklap).
Lalu, setelah Belanda menyerah kepada Jepang, sekitar tahun 1943 atas prakarsa Engku Soendoro, didirikanlah Chugakko (sekolah setingkat SLTP) bertempat di bekas bangunan Normaal School (sekarang jadi Kampus UPI Purwakarta). Kemudian pindah ke bangunan bekas asrama tentara di kantor Keresidenan Djakarta sampai sekarang. Dan namanya berubah menjadi SMP Purwakarta (tanpa nomor sekolah).
Saat itu, Chugakko merupakan satu-satunya sekolah menengah (SMP) pertama di Kabupaten Karawang yang ibu kotanya Purwakarta. Maka jelas pada awal berdirinya, sudah merupakan sekolah yang diminati oleh masyarakat yang sangat luas.
“Bahkan sampai pada tahun 1965, anak-anak yang berasal dari Plered, Pasawahan, Wanayasa, Campaka jika ingin melanjutkan ke SMP, mereka harus ke Purwakarta. Perlu diketahui sebelumnya, wilayah Kabupaten Karawang itu meliputi Karawang, Rengasdengklok, Purwakarta, Subang, Pamanukan, dan Sagalaherang,” demikian Uda Herman. ***








