Rencana Pemerintah Kabupaten Purwakarta untuk merelokasi Wisata Kuliner (Wiskul) ke kawasan Purnawarman telah memicu badai kemarahan di kalangan pedagang. Bagi mereka, Wiskul bukan sekadar tempat mencari sesuap nasi, melainkan ruang sosial yang dulu begitu intim dijadikan panggung kampanye oleh sang Wakil Bupati Purwakarta. Kini, janji-janji manis itu terasa seperti racun yang menggerogoti harapan.
Saat kampanye membahana, Wiskul menjadi arena wajib bagi sang wakil bupati. Ia menebar senyum palsu, berfoto ria penuh kepura-puraan, bahkan mengumbar janji dukungan untuk ekonomi kerakyatan. Waktu itu, Wiskul bukan hanya ramai oleh pengunjung, tetapi juga oleh ilusi palsu kedekatan antara penguasa dan rakyat jelata.
Namun, belum genap setahun kursi empuk diduduki, lokasi yang sama kini justru terancam dicampakkan dengan dalih penataan kota. Pedagang merasa kebijakan ini adalah pengkhianatan keji bagi mereka yang dulu dijanjikan bulan dan bintang.
“Dulu waktu kampanye sering datang, bilang mau dukung UMKM, mau dorong ekonomi kecil. Sekarang setelah menang, malah mau mindahin kami. Rasanya seperti ditusuk dari belakang,” geram Minda Lurien dan Nazla, pedagang Wiskul.
Kekhawatiran terbesar adalah relokasi ke Purnawarman akan menghancurkan mata pencaharian mereka. Lokasi baru dianggap sebagai kuburan bagi usaha mereka. “Wiskul ini sudah jadi jantung Purwakarta. Kalau dipindah, kami mati!” ratap mereka.
Pengamat kebijakan publik dari Analitika Purwakarta, Merry M Velly, melihat ironi yang sangat menyakitkan dalam kebijakan ini. “Saat kampanye, Wiskul dan ruang publik lainnya dieksploitasi habis-habisan untuk membangun citra populis. Namun, setelah berkuasa, kebijakan yang lahir justru mencabut nyawa kehidupan warga,” ujarnya dengan nada getir.
Wiskul, yang diresmikan pada tahun 2016 atas inisiatif Dedi Mulyadi, telah menjadi ikon wisata dan urat nadi ekonomi lokal. Dikenal dengan Car Free Night (CFN), acara ini rutin digelar setiap minggu untuk mewadahi UMKM dari berbagai penjuru Purwakarta.
Lebih dari sekadar pusat kuliner, Wiskul juga menjadi magnet bagi wisatawan, terutama karena lokasinya yang strategis dekat Stasiun Purwakarta dan Taman Air Mancur Sri Baduga. Rencana pemindahan ini tentu menjadi mimpi buruk bagi para pedagang.
Wiskul yang berlokasi si sekitar Stasiun KA Purwakarta itu telah menjadi ikon pariwisata Purwakarta yang tak tergantikan. Lokasi yang strategis dan mudah diakses adalah daya tarik utama Wiskul, bahkan saat air mancur sedang tidak beroperasi. Di sisi lain, Wiskul adalah harapan terakhir bagi 262 pedagang dari berbagai pelosok Purwakarta.
Hingga kini, Pemerintah Kabupaten Purwakarta masih membisu terkait rencana relokasi Wiskul, termasuk sikap sang Wakil Bupati yang saat kampanye Pilkada begitu mesra mendekati para pedagang.***








