Mentari sore menyinari wajah Mawar yang sendu. Tahun-tahun telah berlalu sejak pertemuan rahasia itu, saat masa-masa SMA yang indah dengan balutan hubungan terlarang, dan sebuah pertemuan yang mengubah hidupnya, selamanya.
Bayangan wajah Aswan, pria yang pernah menjadi gurunya, sekaligus ayah dari anak laki-laki yang kini tengah bermain di halaman rumah, masih menghantuinya. Kenangan manis bercampur pahit, seperti rasa kopi tubruk yang terlalu pekat.
Anaknya, Bintang, berlarian riang, tak menyadari beban yang dipikul ibunya. Mata Bintang yang ceria seakan menjadi pengingat akan kesalahan masa lalu. Mawar menghela napas panjang.
Kehidupan yang ia bayangkan dulu, jauh berbeda dengan realita yang ia jalani sekarang. Ia membayangkan masa depan yang penuh kebahagiaan bersama Aswan, namun yang ada hanyalah kesunyian dan ancaman dari istri Aswan yang kerap mengusik ketenangannya.
Ancaman itu bukan hanya berupa kata-kata kasar, tetapi juga ancaman akan membongkar rahasia mereka ke publik. Mawar takut. Takut kehilangan hal penting, takut dicemooh masyarakat, dan yang paling membuatnya takut adalah Bintang, anaknya, yang tak berdosa.
Aswan, yang menjabat sebagai kepala sekolah salahsatu SMK di Konoha, kini hidup dalam kemewahan. Jabatannya yang tinggi tak sebanding dengan tanggungjawabnya sebagai seorang ayah.
Ia menghilang dari kehidupan Mawar dan Bintang, hanya sesekali mengirimkan uang yang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Uang itu terasa seperti penghinaan, seperti tamparan keras yang mengingatkan Mawar akan betapa rendahnya posisinya dimata Aswan.
Mawar mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia menatap Bintang yang masih asyik bermain. Di matanya yang polos, Mawar melihat harapan. Harapan untuk masa depan yang lebih baik, harapan untuk Bintang yang layak mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
Ia bertekad untuk kuat, untuk membesarkan Bintang seorang diri, walau harus melawan badai kehidupan yang menerjangnya. Cinta yang dulu ia anggap sebagai pelarian, kini menjadi beban berat yang harus ia pikul sendirian.
Namun, dibalik pilu itu, ada tekad yang membara, tekad untuk memberikan Bintang kehidupan yang lebih baik dari yang pernah ia bayangkan. Ia akan berjuang, demi Bintang, demi masa depan yang lebih cerah.
Disclaimer: Kisah ini adalah fiksi belaka dan tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan individu atau lembaga tertentu. Segala kemiripan dengan nama, tempat, atau kejadian yang ada di dunia nyata hanyalah kebetulan semata.



